Hari itu adalah hari pernikahanmu. Aku merasa tersisih atas ulahmu yang telah memilih orang lain. Aku sedih, gundah, resah dan gelisah. Aku galau. Begitu sempatnya engkau mengundang aku untuk hadir di pernikahanmu. Dua hari yang lalu, kau kirim surat undangan.
Aku datang. Aku tak kuasa menahan rindu yang membeludak menyeruak meliputi pandangan mataku ketika engkau bersanding di pelaminan. Derai air mata rindu ku menangis lirih di depan bola matamu. Aku sempat memukul meja daftar tamu undangan. Aku tak sengaja. Emosiku keluar. Gang depan rumahmu yang sering ku lewati itu berakhir dengan janur kuning yang membumbung tinggi ke angkasa. Sayang seribu sayang, kerinduan dalam doaku teruntuk kamu di langit berkata lain. Setelah bersalaman dengan pengantin priamu, aku duduk di kursi tamu undangan.
Aku mendengar sebuah lagu di panggung yang berada di depanku. Petikkan sebuah lagu itu ku kutip kembali dalam pikiranku :
"Jangan kau tolak dan buatku hancur, ku tak akan mengulang tuk meminta. Satu keyakinan hatiku ini, akulah yang terbaik untukmu .." (lagu ciptaan Yovie Widianto).
Dulu, aku pernah memintamu menikah denganku. Dulu aku berniat untuk datang menghadap orang tuamu. Dulu aku pernah memintamu untuk menjadi permaisuriku. Namun semua itu dulu.
Kini lain cerita. Kau berada di depanku, bukan di sisiku. Mengapa Tuhan mempertemukan kita, lalu akhirnya berpisah?
Andai kau tahu
Andai kau merasa hatiku itu kamu
Andai kau tahu aku ingin kamu
Andai pendampingmu itu aku
Duuh apajadinya itu yaa?
BalasHapusBroke banget huhuhu jangan nangis bang hahaha
Boleh dikit menambahkan ya bang, penggunaan kata andai agak sedikit gimana gitu kesannya.. Mungkin bisa bila atau jika. pendapat saya aja sih hihihi
Katanya GA baik lho terlalu berandai andai.
BalasHapus✌️
Hehe iya terima kasih buat masukannya iya temen2 ..
BalasHapusIya itu kesannya yang namanya masa lalu ga bisa balik lagi sedih banget huhu .. :'-(
Sakit bacanya :(
BalasHapus