Oleh : Mursyid Syaiful Haq
Pada waktu itu, sekitar bulan Desember tahun 1999, usiaku 6 tahun, untuk pertama kalinya saya mengenal suasana Ramadhan dan shalat tarawih untuk pertama kali di sebuah masjid di kota Tasikmalaya. Suasana ramai dengan kegaduhan bunyi petasan dan juga langkah kaki jama'ah di malam hari berbondong-bondong memasuki area masjid. Biasa anak nakal, mainnya sama petasan melulu. Aku biasa main petasan sebelum sholat isya. Tempat mainnya emang agak jauh dari lingkungan masjid. Aku mah gak punya uang kalau mau main petasan. Tapi, temen2 yang baru aku kenal selalu selalu ngajakin aku main petasan. Ibarat mau bisnis tanpa modal hahaha ..
Gak terlalu kenal sih, cuma berasa deket aja seolah-olah kayak udah kenal lama. Buat usia anak kayak gitu, kenakalan main petasan pas malam tarawih udah jadi makanan tiap pas mau memasuki Ramadhan, kata temen-temenku sih gitu.
Tahu gak sih? Anak 6 tahun waktu itu gak sejahil anak 6 tahun di zaman now. Kalau udah baris di masjid bikin shaf sholat masih aja godain temennya mulai dari injek kaki sampe tendang pantat temennya yang lagi sujud, terus yang nendang itu langsung kabur keluar dari masjid. Duh aya2 wae ahh ..
Kenakalan anak zaman now (biasa dipanggil generasi millenial : lahir tahun 2000-an) itu beda banget sama anak tahun '90-an. Nakalnya kita-kita membawa kesan yang mendalam. Saking dalamnya, aku masih ingat itu gimana caranya nyembunyiin sendal punya temen tapi gak ketahuan. Parahnya nih nyembunyiin sendal di toilet masjid segala nunggu yang punya itu nangis, abis nangis baru dah dikasih tahu sendalnya ditaro di mana. Duh. Setelah menginjak masa SMP, aku mulai ngerti kalau jahil itu dilarang oleh agama.
Pengalaman unik lainnya yaitu kalau ufah mulai deket ke lebaran. Biasanya kakek dan nenek suka ngumpulin duit receh dari tahun ke tahun terus dibagikan pada hari raya idul fithri ke cucu-cucunya. Kata nenek saya, kegiatan ini udah jadi tradisi turun-temurun, namun entah siapa yang memulainya.
Di hari raya Idul Fithri, keluarga besar di Tasikmalaya selalu makan enak dengan berbagai kuliner Nusantara. Mulai dari kupat tahu Singaparna sampai rendang khas masakan Padang. Gak banyak macem kok, biasanya masakannya perpaduan antara masakan Sunda, Jawa sama Padang. Wah nikmatnya!
Tak lama di sana, tahun 2000-an aku pindah ke Kabupaten Bandung. Di Paledang inilah tempat pertama kali singgah hingga detik ini. Ada banyak halangan dan rintangan yang lebih terasa di sini. Kebiasaan baru di Kabupaten Bandung jauh lebih kompleks, mungkin karena tak lama tinggal di kampung halaman barang kali.
Orang-orangnya ramah. Tempatnya lebih beragam dari segi cara berjualan. Ramai, kumpulan berbagai suku juga ada. Dengan daya tarik wisata alamnya yang indah, tinggal di Kabupaten Bandung sungguh mengagumkan.
Aku belajar banyak hal di Kabupaten Bandung, mulai dari ilmu pengetahuan, dipertemukan dengan berbagai kajian Islam, sampai merasakan indahnya jatuh cinta dengan keindahan alamnya yang luar biasa. Ini membuktikan bahwa Kabupaten Bandung akan menjadi kenangan sepanjang masa untuk aku.
Kabupaten Bandung sungguh unik. Kebiasaan warganya yang suka bergotong-royong terlihat pada saat kerja bakti, juga kegiatan rutinitas kajian Islaminya, setiap hari ada. Masyarakat juga sering membiasakan olahraga pagi di lapangan kantor Pemerintah Kabupaten Bandung. Terkadang, ada sebagian wilayah di Kabupaten yang mengalami kemacetan layaknya Kota Besar. Uniknya seorang perempuan biasa kerap saya temukan sebagai juru parkir atau pengatur lalu lintas di pertigaan jalan.
Ada korelasi yang saya pelajari antara dulu dan sekarang yaitu :
1. Masyarakat Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Bandung sama-sama mengaktifkan kegiatan Islami.
2. Semasa kanak-kanak hingga sekarang, saya merasakan kehangatan persahabatan dan tali persaudaraan. Meski masa kecil itu tindakan yang salah, tapi saya merasakan pertemanan yang baik walau pun gak kenal-kenal amat. Contohnya mau main petasan dibeliin sama temen hehehe ..
Iya ..
Kebiasaan dua tempat inilah yang saya dapatkan sebagai pembelajaran. Sama-sama membina hangatnya persahabatan. Apalagi kalau membina rumah tangga heheheh ..
Saya tidak mau berbicara tentang kekurangan terhadap kebiasaan suatu daerah atau kampung halaman. Karena gak ada yang sanggup menuju kesempurnaan.
Semua berawal dari hati, maka biarlah hati yang menjadi saksi bagi diri kita sendiri. Kita menulis, lalu kita berbagi manfaat untuk orang lain. Itu semua demi masa depan Bangsa Indonesia yang lebih baik lagi!
#NKRI_Harga_Mati
#Indonesia_Sejati
Bandung, 21 Oktober 2017
Penulis,
MURSYID SYAIFUL HAQ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar