Oleh : Mursyid Syaiful Haq
Di sini penulis sebagai pemeran utama bernama Garuda. Penulis sedang bercerita melalui dunia khayalnya. Jika aku seorang petinggi kerajaan di sebuah Negeri dongeng, maka aku akan menikah dengan seorang bangsawan pula. Berikut petikan ceritanya ...
Ada satu cerita tentang perjalananku menuju Negeri Matahari. Cinta berdarah. Yaa, Negeri yang Penuh Luka. Perkenalkan, namaku Garuda, aku dari Negeri Angin. Aku diutus sebagai penasihat untuk menghentikan peperangan di Negeri Matahari yang baru-baru ini terjadi. Beberapa hari terjadi pertumpahan darah. Saudara seperkampungan saling menyakiti.
Negeri Angin adalah negeri yang damai, karena itu seorang raja dari Negeri Matahari bernama Pelita Abadi meminta bantuan kepada Negeri Angin untuk memberantas pertikaian. Untuk itu, aku, Garuda yang diutus oleh raja Topan Angkara Murka siap berangkat menghadapi segala tujuan untuk mencapai tujuan itu. Di Negeri Matahari, aku tidak mendengar kata cinta, yang aku tahu selalu ada peperangan di sana.
Aku berangkat, dua hari kira-kira untuk menggapai Bukit Cinta, perbatasan dua Negeri jurang pemisah antara peradaban Timur dan Barat. Aku mendapat informasi dari orang sekitar sana, bahwa Pelita Abadi dan istrinya, Cahaya Hati, beserta Penasihat Putri Kerajaan bernama Mentari melarikan diri dari istana kerajaan. Beberapa saat kemudian, sampailah aku di istana Kerajaan. Detasemen Surya, Prajurit Istana Negeri Matahari yang terkenal kuat karena pertahanan pasukannya, dibantai habis tak satu pun terlewat. Hanya ada dua petunjuk yang ku temukan, yaitu seorang Putri Kerajaan bernama Pelangi Cantik Jelita tergeletak pingsan terkena efek obat bius dan sebuah surat ancaman.
Aku : "Bangunlah! Putri Matahari..."
Pelangi : "Siapa engkau, hai orang tampan??:
Aku : "Aku diutus oleh Raja Topan Angkara Murka untuk menjemputmu dari bahaya ini. Apa yang membuat kerajaan Negeri Matahari luluh lantah? Padahal, Negeri Matahari mempunyai kekuatan Detasemen Surya yang sudah teruji kehebatannya?"
Pelangi : "Entahlah. Mungkin ada pengkhianatan di negeri kami. Sebagai seorang Putri Kerajaan, saya dituntut untuk mengerti tentang hubungan diplomatik di tiap wilayah. Ada tiga suku di sini, yakni Kilat, Petir dan Halilintar. Saya diajarkan informasi ini oleh seorang Penasihat Putri Kerajaan. Kami adalah satu. Kilat adalah berkas sinar, Petir adalah energi listrik dan yang terpancar, dan Halilintar adalah bentuk simbol listrik itu dan suaranya yang menggelegar. Namun satu diantaranya menolak pemerintahan kami, karena keluarga kami adalah suku Petir".
Aku : "Kalau begitu, surat yang tertinggal di sini ada hubungannya dengan itu?"
Pelangi : "Iya. Perencanaan kudeta".
Aku : "Marilah, aku akan menggendongmu ke tempat yang aman. Bawa suratnya".
Setelah mengevakuasi Pelangi ke Bukit Cinta, aku siap membacakan isi suratnya. Pelangi pun menyimak.
"Kami ingin Negeri Matahari untuk kami.Tak ada yang bisa halangi kami lagi".
Chakra, pemimpin suku Halilintar
Kami pun beristirahat sejenak untuk istirahat. Keesokan harinya, aku menghubungi Merpati, Panglima Kerajaan Negeri Angin dengan mengirim surat terbang lewat Angin Muson Empat Musim. Sebagai Panglima Perang, beliau adalah guru yang hebat bagiku. Beliau mengajariku jurus pamungkas pedang tingkat tinggi, yaitu Jurus Tarian Pedang Badai Irma, jurus pembuat pusaran badai dengan pedang dua tangan.
Sampailah aku dan Sang Putri Matahari di Istana Kirana, kerajaan Negeri Angin. Aku langsung menghadap Raja.
Topan Angkara Murka : "Apa yang membuatmu kewalahan sehingga sayatan pedang menimpamu, wahai Garuda?"
Aku : "Ampun Paduka, pasukan Halilintar banyak sekali. Aku bersama seorang putri kemari".
Topan Angkara Murka : "Suruh dia menghadap. Kamu, Garuda! Makan dulu sana, ada Mie Ayam Spesial Baso Goreng hehehe.."
Aku : "Baik, Paduka!"
Sang Putri mulai berbicara.
Pelangi : "Aku harus mencari ayah dan ibuku bersama seorang penasihat putri kerajaan yang hilang dari negeri kami. Tolong bantu kami untuk menyelesaikan situasi politik yang sedang genting ini'.
Topan Angkara Murka : "Merpati, kirim pasukan Angin Malam untuk siap berperang. Evakuasi jika ada rakyat sipil di area perang. Kita besok pagi berangkat".
Merpati : "Siap laksanakan, Paduka!"
Bersama seluruh elemen pasukan, kami siap berperang. Negeri Angin perlahan ditinggalkan.
Aku : "Siap berangkat, Pelangi?"
Pelangi : Okelah kalau begitu".
Merpati : "Ekhm. Ciyee .. "
Aku : "Apaan sih? Geje deh ihh"
Tak disangka, kami bersama pasukan bertemu dengan orang tuanya Pelangi dan Mentari, penasihat kerajaan Negeri Matahari.
Pelangi : "Ayah, Ibu, Mentari juga ..! Apa kabar?"
Mereka menjawab : "Kami baik-baik saja".
Merpati : "Pelangi, gadis cantik di sebelah orang tuamu itu siapa?"
Merpati dan Mentari pun berkenalan.
Aku : "Ciyee.. Ada yang lagi kasmaran."
Merpati : "Kurang kerjaan Pak kalau saya naksir mah. Gaji dari jabatan ini aja sudah cukup buat nambah uang kost-kostan wkwkwk .."
Ada-ada saja bercandanya Panglima Merpati ini. Kami pun lanjut ke percakapan selanjutnya.
Pelita Abadi : "Kami terusir dari negeri sendiri. Terasing bak berlayar terombang-ambing di lautan. Ingin segera mengakhirinya"
Pelangi : "Pasukan Halilintar menyerukan gerakan kepemimpinan terpusat, dengan jurus terlarang bernama Tarian Jagat Raya Pedang Halilintar, yakni jurus yang digunakan untuk menghancurkan wilayah tertentu yang akan diserang menggunakan pedang bermuatan listrik murni dari langit. Dengan ini, Negeri kita bisa hancur, dan mereka bisa membangun negeri yang baru. Mereka akan membuat kejahatan di mana-mana. Jurus itu hanya boleh digunakan untuk memusnahkan kejahatan, bukan mendukung kejahatan. Ada dua cara yang bisa digunakan untuk menghancurkan jurus itu. Pertama, membunuh pengguna jurusnya, kedua, kekuatan cinta antar dua peradaban negeri, yakni Negeri Matahari dan Negeri Angin".
Pelita Abadi : "Kehancuran telah dipelihatkan. Aku harus berperang melawan negeri sendiri, dengan rakyatku sendiri".
Aku : "Baiklah, kami siap membantu. Mari kita berperang sampai titik darah penghabisan".
Akhirnya, kami bertemu pasukan Halilintar. Kami sepakat untuk berperang di Bukit Cinta yang tak tersentuh rakyat sipil.
Ritual jurus terlarang itu dimulai. Chakra adalah pemimpin Suku Halilintar yang menjadi pengendali jurus mematikan itu.
Chakra : "Sebentar lagi kalian akan musnah. Hahahahaha .. "
Aku : "Diam kau, Chakra .. "
Merpati : "Celaka .. Tarian Pedang Jagat Raya itu mengarah ke Tuan Putri Pelangi .."
Aku : "Tidak Rhoma .. Tidak .."
Merpati : "Dia Pelangi Pak, bukan Rhoma Irama si Raja Dangdut hahaha .."
Aku : "Ayeehh .. Lupa .. Panglima Merpati, tolong jaga Pelangi. Saya akan menghalangi pengguna jurus itu .."
Merpati : "Baik. Hati-hati Tuan Garuda".
Aku : JURUS TARIAN PEDANG BADAI IRMA ... EMPAT ELEMEN BERSATULAH ..
Merpati : "Jurus yang pernah aku ajarkan pada Garuda kini semakin sempurna. Tapi kekuatannya masih tak sebanding dengan jurus terlarang itu, dia mengarah kepada para petinggi Negeri Matahari. Aku harus menjauhkan mereka darinya".
Aku : "Jurus terlarang ini sangat kuat, sepertinya aku akan merasakan kematian. Kenapa berbelok? Ahh tidak .. Jangan ke sana .."
Pelangi : "Tidak. Garuda jangan mati.. Aku mencintaimu. Please deh jangan mati dulu .. "
Aku berhasil menghalanginya. Sepertinya keadaan semakin gelap .. Entah. Ini alam apa. Tiba-tiba sesosok putih datang mendekatiku, tak berbentuk dan rupa.
Sosok Putih : "Kembalilah Garuda".
Aku : "Siapa dirimu? Apa maksudnya kembali?"
Sosok Putih : "Kamu belum pantas di sini. Apalagi kamu masih jomblo. Balik lagi sana, Sang Putri nungguin kamu .."
Tiba-tiba aku merasakan kehangatan. Pelukan Sang Putri, mungkin ini yang dimaksud kembali.
Pelangi : "Bangun sayang, lawan dia".
Aku : "Ciaat.."
Merpati : "Ini Merpati Tuan, tolong jangan saya .."
Aku : "Salah orang hahahha .."
Chakra : "Apa yang terjadi? Kekuatan Tarian Jagat Raya Pedang Halilintar ini melemah? Tidak mungkin!!"
Aku : "Ayo kita duel. Gunting kertas batu ding .."
Chakra : "Gampang itu mah hahaha .. "
Duel pedang sengit pun terjadi.
Merpati : Aku jadi ingat apa kata sang Putri. Ternyata kekuatan cinta dari dua peradaban dapat merusak elemen listrik pedang Chakra tadi hingga akhirnya melemah .. Baiklah kalau begitu. Mentari, aku mencintaimu. Marilah kita berperang bersama-sama".
Mentari : "Baiklah akang Merpati. Aku terima cintamu. Sebenarnya aku mencintaimu sejak pertama kali bertemu .."
Perang semakin ramai. Jurus terlarang itu semakin melemah. Chakra si pengguna jurus itu terhunus oleh pedangnya sendiri karena energi dalam tubuhnya sudah hilang.
Chakra : "Selamat atas kemenangan kalian. Keegoisan akan kalah dengan perhatian, cinta, dan kasih sayang antar sesama .. "
Aku : "Chakra, terima kasih telah mengajari kami arti cinta. Aku takkan pernah mau membunuhmu, tapi aku tak dapat menyelamatkanmu. Ini semua karena ulah dan perbuatanmu sendiri .."
Jurus terlarang itu telah berakhir. Pengguna jurusnya pun sudah mati. Mulai detik ini, perselisihan telah tiada. Bahkan dua Negeri yang berbeda ini berbaur dan tenteram.
Topan Angkara Murka : "Yang terhormat kepada Panglima Merpati dan Mentari, Penasihat Kerajaan Negeri Matahari, mulai besok kalian diperkenanankan untuk menikah.
Pelita Abadi : "Saya setuju".
Aku : "Ciyee ..Btw, kalau aku kapan?"
Pelita Abadi : "Kamu nanti aja, Pelangi soalnya masih kuliah dua semester lagi, tahun depan baru lulus hehehe .. "
Aku : Aihh.. Lama :-v tahun depan dong .. "
Pelita Abadi : Hahaha .. Tenang, besok juga kita nikahkan. Oke .."
Keesokan harinya, pernikahan itu terjadi. Akhirnya, dengan dengan cinta, kedua Negeri menjadi damai sejahtera. Takkan ada lagi Cinta Berdarah di Negeri Matahari ..
SEKIAN.
Wah imajinasinya keren
BalasHapusjadi ingat Avatar